YANG KU RINDU
Merindukan bulan ditengah hujan malam adalah kemustahilan tapi tidak untuk Dia yang Maha memastikan dan kepastianNya tiada tergadaikan. Gelapnya malam di tengah rerimbunan pepohonan, nyiur angin malam melambai seolah ingin menggapai tangan dan berdekapan "sekarang malamku bersamamu."
Dinginnya aura angin malam dalam dekapan tenda di tengah hutan. Air sungai mengalir menambah suasana dekapan angin menuju malam.
Tubuh ini sudah merespon dingin yang mulai menelusup ke persediaan tulang dan menggetarkan tubuh. Bibir mulai berkemit meminta sesuatu yang hangat.
Aku dan suasana hati menyatu dalam keheningan menuju malam, hanya suara jangkrik dan beberapa hewan lah yang diijinkan "berteriak" tanda hari mulai gelap dan lelapnya kehidupan "manusia siang."
Mata merekam dengan fokus akan keindahan alam, otak merefresh kejenuhan, melepas penatnya kehidupan, melepaskan peristiwa memilukan yang menghampiri menuju masa depan yang penuh arti.
Mie instan yang selalu menjadi kebanggan dan andalan di setiap kegiatan di luar ruangan. Aura dingin menambah keasyikan dalam dekapan.
Suara burung malam pun mulai menderu seolah berkata "ini malamku, ini waktuku, ini aku bertengger di atas dahan kayu memuji keagungan alamMu."
Desir angin meniup lebatnya dedaunan, merontokkan titik air kehidupan, suara tetesan air berjatuhan dari dahan dan ranting tinggi menjulang.
Aku sang pencari kedamaian
Aku sang pencari kesunyian
Aku sang pencari keindahan
Aku sang pencari cinta
Aku sang pemimpi
Aku sang petualang kehidupan
Enam tahun telah berlalu, dunia pendakian telah aku "istirahatkan." Kenangan masih mengusik dalam ingatan, gelisah dalam puncak menunggu matahari pagi terbit dari ketinggian 3.265 MDPL,3.339 MDPL, 2,665 MDPL, 2.962 MDPL.
Namun kerinduan itu selalu menggelayut dalam ingatan, mengoyak rasa batin yang rindu keheningan malam dari atas ketinggian dan berkat "wahai Rabb semesta alam, betapa kecil manusia dari pandangan ketinggian ini. Kerlap-kerlip lampu kota kebanggaan menusia yang tak lama akan sirna. Tapi tidak, tidak untuk kuasa-Mu, tidak untuk keabadian-Mu, tidak untuk kehebatan-Mu, dan aku bersimpuh dari ketinggian ini memuji keagungan-Mu.
Aku berdiri dan bersimpuh di atas puncak yang menjadi kebanggan "manusia alam", meratap, menghiba welas asih-Mu. Aku akan abadi bersamaMu, aku akan sirna dari alam mayaMu, aku akan tinggalkan dunia fana menuju keabadian-Mu, menyusul kedua putri ciptaan-Mu yang sempat kau kenangkan bersamaku.
Gunung - gunung itu akan menjadi cerita masa lalu ku, hamparan pemandangan indah hanya akan menjadi saksi bisu kehidupanku. Tapi jiwa dan ragaku akan menjadi saksi kehidupan ku di masa lalu. Cerita keindahan dan kebanggaan hanya bak dongeng Nina bobok menuju peristirahatan ku.

Komentar
Posting Komentar