DISISI PUSARAMU
Pagi ini saya luangkan waktu untuk segera ke "gundukan" tanah yang mungil, basah bekas gali ulang yang sebelumnya tertata, tertanam rumput hijau. Semula melihat ke awan serasa mendung dan niat hati mulai ingin delay untuk berangkat ke gundukan itu. Memandang waktu sejenak, berpikir sekejap dan berganti costum siap berangkat membawa nisan dan rumput menuju tempat dua nama yang terukir dalam batu nisan. Ceritamu selalu terabadikan dalam tulisan tinta kehidupan,waktu yang tak tergantikan, hati dan pikiran, biar orang lain tahu bahwa kalian pernah ada, mengisi relung hati yang lama menanti. Isi hati bila dituliskan, secuil kata yang penuh harap kelak di kehidupan masa depan, permohonan pada rabbmu dan rabbku nak. Doa di Sisi Pusaramu Ya Allah… Ini aku, seorang ayah yang datang dengan dada terbuka, namun jantung remuk oleh kehilangan yang tak mampu kutuliskan. Di hadapanku—dua pusara mungil, dua nama yang kupanggil dengan penuh harap dan cinta, Dima Hayfa Setiawan dan...