DISISI PUSARAMU
Pagi ini saya luangkan waktu untuk segera ke "gundukan" tanah yang mungil, basah bekas gali ulang yang sebelumnya tertata, tertanam rumput hijau. Semula melihat ke awan serasa mendung dan niat hati mulai ingin delay untuk berangkat ke gundukan itu.
Memandang waktu sejenak, berpikir sekejap dan berganti costum siap berangkat membawa nisan dan rumput menuju tempat dua nama yang terukir dalam batu nisan.
Ceritamu selalu terabadikan dalam tulisan tinta kehidupan,waktu yang tak tergantikan, hati dan pikiran, biar orang lain tahu bahwa kalian pernah ada, mengisi relung hati yang lama menanti. Isi hati bila dituliskan, secuil kata yang penuh harap kelak di kehidupan masa depan, permohonan pada rabbmu dan rabbku nak.
Doa di Sisi Pusaramu
Ya Allah…
Ini aku,
seorang ayah yang datang dengan dada terbuka,
namun jantung remuk oleh kehilangan yang tak mampu kutuliskan.
Di hadapanku—dua pusara mungil,
dua nama yang kupanggil dengan penuh harap dan cinta,
Dima Hayfa Setiawan dan Naval Ishlahunnisa Setiawan, bunga-bunga surga yang hanya singgah sekejap di bumi.
Ya Rabb,
mereka belum sempat kutimang lama,
belum sempat kudongengkan malam-malam panjang,
belum sempat mereka menyebut namaku dengan penuh riang.
Kini, hanya rumput basah yang menemani mereka,
tanah merah ini masih segar,
masih merekam air mata ibunya,
masih menyimpan desah tanya:
"Mengapa secepat ini, ya Allah?"
Tapi aku tahu,
Engkau tidak salah memberi waktu.
Engkau tidak keliru mengambil yang paling indah lebih dulu.
Barangkali mereka terlalu suci untuk dunia yang kejam,
terlalu halus untuk napas dunia yang sesak.
Maka kupasrahkan keduanya pada-Mu, ya Rahman…
Tempatkan Dima dan Naval di taman surga-Mu,
jadikan peluk-Mu sebagai ganti pelukanku,
berikan tawa di sana—yang tak sempat mereka rasakan di sini.
Dan bila suatu hari,
kau izinkan aku kembali seperti mereka,
biarlah kubertemu lagi,
tanpa batas, tanpa duka, hanya cinta yang abadi.
Aamiin...
Di sisi pusaramu
Depok, 1 Muharram 1447
Memandang hamparan luas, kerlap KerLiP pantulan cahaya matahari yang dipantulkan kembali oleh batu-batu yang terukir masing-masing nama di atasnya. Semua menjadi saksi torehan tinta sejarah dunia bahwa dulu mereka pernah ada singgah di dunia.

Komentar
Posting Komentar