SALIK
Masalah kita di dunia baik itu kita disakiti orang, ditolak lamaran, ditolak cinta, atau dikecewakan, akan menjadi masalah yang sifatnya dunia manakala kita segera memperbaiki mindset dan berpandangan luas bahwa aku dan dia adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah yang memang dipertemukan antara dua cerita, tersambung silahturahmi orang asing jadi saudara baik ikatan emosional maupun ikatan pernikahan atau kekerabatan terputus silaturahmi karena waris.
Sungguh manusia dalah makhluk yang diciptakan sekadar batas maksimal makhluk yang diberi kemampuan terbatas. Setiap saat akan berkelana di muka bumi atau kembali ke alam asal. Adanya manusia atau tidak adanya manusia di muka bumi, kehidupan dan tatanan semesta akan terus berjalan atas kehendak Allah. Begitu pula kita ditempat dimana kita berkumpul menjalin hubungan antar manusia atau berorganisasi. Bila diberi kemampuan atau amanah, maka jalankan semaksimal mungkin sesuai dengan tupoksi kita masing-masing dan bila pendapat kita tidak diterima oleh atasan atau orang sejawat kita di dalam organisasi tersebut, jangan pernah memaksakan kehendak orang lain untuk menerima pendapat kita meski kita faham dan tahu ilmunya tentang sesuatu tersebut. Sebenar dan sefaham apapun ilmu kita, maka akan kalah dengan posisi struktur atau jabatan atau orang yang punya kuasa tetapi tidak mau mendengar ide dan gagasan dari bawahan yang disertai ketidakfahaman tentang sesuatu tersebut. Sabar dan jalankanlah tupoksi kita sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Ambil kebaikannya buang keburukannya dan teruslah berbuat baik kepada seaama makhluk Allah. Yang pasti pada hakikatnya, Allah lebih mengetahui tentang makhluknya. Ambillah hikmah dan pelajaran dari apa yang dilakukan Ibnu Batuta.
Kisah Ibnu batuta, penjelajah dan sarjana abad klasik yang menghadapi penghambat dalam perjalanannya, memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya menghindari orang-orang yang dapat menghalangi kesuksesan kita.
DI ABAD klasik Prancis, terdapat seorang tokoh yang terkenal karena cerdiknya dalam berpura-pura bodoh untuk mencapai pengaruh dan kesuksesan. Namanya adalah Francois VI, Duc de La Rochefoucauld, seorang penulis dan filsuf terkenal pada abad ke-17. Kisahnya tentang "berpura-pura bodoh" menunjukkan bagaimana kecerdikan dapat menjadi senjata untuk memengaruhi orang lain dan mencapai pengaruh yang berarti.
Komentar
Posting Komentar