*PERTEMUAN TIDAK DITAKDIRKAN TAPI TAKDIR YANG MEMPERTEMUKAN*
Hari yang penuh hikma mungkin yang pas untuk bisa di ungkapkan sebagai kata yang tepat. Dua Sembilan Desember 2024, pagi tadi istri ngajak jalan, lantas saya bilang "kan mau ke Abidah" (adek ke tiga dari istri saya). Padahal sebenarnya saya masih agak enggan untuk pergi kemana pun, karena ntah kenapa malas ke mana-mana di tambah memang juga tak ada kendaraan sendiri.
Siang sebelum dhuhur saya coba ke rumah bulek (sodara emak lain ibu) mau pinjem motor yang biasanya sering saya pinjam saat pulang untuk nengok adek ipar di Magetan. Rencana awal maunya agak pagi ke Ma'had Darul Wahyain Sumber Agung Plaosan Magetan. Sembari nunggu info dari yang akan di kunjungi ternyata jadwal kegiatannya masih padat dan kemungkinan jam 14 lewat baru lenggang.
Ketika ke rumah pak lek ternyata beliau sedang keluar, kata Wahyu (ponakan, anak dari bulek) "Pak e metu mas, pijet". Latas saya bilang "ya wes, nko nak wes balek omongin ya, mau pinjem motor". Akhirnya saya balik pulang sembari menunggu shalat dhuhur tiba. Usai shalat dhuhur kurang lebih tadi jam dua belas lewat, terpantau sembari menunggu di teras rumah belum ada suara motor pulang sampai pukul tiga belas lewat juga belum ada tanda kedatangan. Saya coba wa Wahyu juga belum ada balasan. Dengan terpaksa saya ke rumah bulek lagi dan ternyata Wahyu sedang tidur.
Ketika Wahyu sedang tidur, saya coba bangunkan dan tanya motor Mio, sambil membuka mata Wahyu menjawab pertanyaan sembari senyum kalau motor Mio ada di rumah. Disini saya baru sadar bahwa ada komunikasi yang tidak nyambung antara niat mau pakai motor Mio, penangkapan wahyu mau pakai motor N Max, begitu pula saya terlupa bahwa ada motor metik satu lagi yang baru yang di pakai pak lek hehehe. Sambil saya colek Wahyu dan berkelekar "e alah ya wes motor kui, mau maksut e." Dan akhirnya saya minta kunci dan Wahyu saya suruh ambil STNK. Kata Wahyu "kunci ono Nang motor mas", akhirnya saya lihat ke motor tapi tidak ada, sedikit mencari ternyata di taruh di box kecil. "STNK ne yu," pinta saya untuk mengambil, tapi di cari di lemari juga tak ada. Saya minta untuk telp bapaknya tapi hpnya di rumah. Pada akhirnya, ya sudah, bismillah niat jalan tanpa bawa STNK. Motor saya bawa ke rumah dan menyeru pada istri untuk bergegas ganti baju.
Selesai ganti baju dan siap jalan, saya baru ingat "oh Yo, helm kan gurung". Akhirnya saya balik lagi ke rumah bulek dan kebetulan pak lek sudah pulang dan Wahyu sudah menunggu di depan pintu sembari ngaca baru bangun tidur dengan membawa STNK motor Mio. Seusai ambil helm saya langsung pulang siap berangkat. Dalam perjalanan sembari senyum ngakak "mungkin Iki wes takdire mangkat yah mene, la kok ket mau kok gak sadar lek pak lek pergi pijat bawa motor N Max dan motor Mio ada di rumah wkwkw. Ada hikmah apa ya Allah yang saya akan terima?". Pukul empat belas lewat sebelas menit akhirnya kami baru berangkat menuju kota Magetan dari Bojonegoro. "Bissmillah tawakal tu alallah, sembari jalan senyum dan berdoa.
Singkat cerita, sampai di Ma'had Darul Wahyain menjelang shalat ashar kurang 10 menit setelah melewati hujan yang cukup membuat kami basah. Akhirnya ketemu juga dengan adek ipar dan bersua kurang lebih dari pukul 15:00 sampai pukul 16 lewat sedikit dan kami pamit pulang.
Sembari memantau jarak 20 menit dengan gogle maps, janji mampir ke rumah Teguh, temen SMK yang beberapa menit sebelumnya kami sempat Vicall dan dia kirim lokasi. Alhamdulillah rumahnya ternyata masih satu jalan dengan arah pulang. Pukul 16:57 akhirnya kami sampai di pintu masuk komplek Badar Sari Raya Magetan dimana Teguh tinggal bersama istrinya.
Obrolan menarik, cerita masa sekolah hingga masa sekarang kondisi masing-masing yang sama - sama memiliki kesibukan, membicarakan ikhsan yang konon jadi pengusaha buah hingga Okta dan Jefri yang tenggelam tiada kabar kehidupannya (los kontak). Tanpa terasa obrolan yang hangat di akhiri oleh suara adzan Maghrib yang berkumandang dan kami berpamitan seusai adzan Maghrib selesai serta teh hangat kami habis.
Melanjutkan perjalanan ke arah Ngawi, kami sempatkan mampir ke pom bensin untuk melaksanakan shalat Maghrib dan sekaligus isi bahan bakar. Teringat kata teguh bahwa si ikhsan sang pengusaha sedang sakit, maka saya coba wa untuk di Shere lokasi, "Shere lokasi, Tak mampir Kono". Pinta saya ke ikhsan.
Perjalanan panjang, sesuai shalat Maghrib dan isi bahan bakar akhirnya saya putuskan tancap gas menuju rumah kawan lama. Empat puluh tiga menit jarak dari tempat kami isi BBM kemudian dua puluh lima menit dari jalan raya Maospati Magetan. Dua puluh lima menit setelah Maghrib ternyata jauh berbeda terasa ketimbang dua puluh menit sebelum Maghrib menuju rumah Teguh. Keluh istri dalam perjalanan 20 menit menuju rumah Ikhsan pantat terasa banget pegel dan sakit.
Selepas isya persis akhirnya kami sampai di rumah Ikhsan yang ternyata sudah menunggu di depan pintu. Awalnya saya punya ide untuk ngerjain Ikhsan, ide saya utarakan ke istri, "nanti kalau dah sampai, kamu beli buah ya, tapi tidak sama saya, nanti baru buahnya kita bawa ketemu Ikhsan. Ternyata sampai di tempat Ikhsan sempat kebablasan dikit karena patokan toko buah tapi tidak buka dan akhirnya ya terpaksa idenya gagal lanjut bertamu biasa tidak jadi buat kejutan.
Percakapan dan umpatan bercanda kami akhirnya kami tutup dengan menghabiskan teh manis yang disuguhkan dan kami pamit pulang tepat pada pukul 20:09 kurang lebih. Kembali saya buka peta maps mencari petunjuk pulang. Seusai arahan kawan saya satu ini akhirnya kami ikut.
Pukul 19:01 menit kami istirahat sejenak di warung pecel Lamongan untuk makan malam. Tak selang beberapa lama pesanan kami datang. Menyantap pesanan bebek goreng, dari balik kain penanda bertuliskan warung makan Lamongan muncul sesok wanita berbaju pink yang sembari saya kernyipkan mata. "Kayaknya ini Yuli teman saya SMP dulu". Semakin mendekat semakin yakin ini Yuli saya memalingkan muka sembari berkata canda "kayakne gak kenal dan ia membalas dengan senyuman". Ia kemudian melewati saya barulah saya memulai obrolan setelah memastikan bahwa ia adalah Yuli kawan lama semasa SMP. Tak berapa lama suami Yuli menyusul dari belakang mengikuti Yuli memesan makanan.
Sembari menikmati pesanan saya, saya persilahkan Yuli dan suaminya untuk mengambil posisi duduk dan dilanjutkan ngobrol bertanya kabar dan kawan sambil menunggu pesanan jadi. Setelah pesanan Yuli dan suaminya terhidang, saya akhiri percakapan dan sama-sama menikmati hidangan masing-masing. Dalam hati saya sembari menikmati makanan bergumam, "Mungkinkah ini yang dinamakan hikmah, takdir mempertemukan. Kawan lama yang semula tidak ada niat untuk janjian ketemu baik Teguh dan Ikhsan, spontan teringat dan membuat janji mampir. Yuli Purnawati yang namanya tadi siang sempat terlintas, ingin saya bertanya padanya mengenai tempat beli kripik tempe akhirnya malam ini kami dipertemukan tanpa sengaja dalam warung makan pecel lele Lamongan. Ini adalah takdir mempertemukan.

Komentar
Posting Komentar