"DI ANTARA LANGIT SURABAYA"

Setiawan adalah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Luqman Hakim Surabaya, menjalani kehidupan di kota besar yang hiruk-pikuk dengan ritme yang cepat. Di antara deru motor dan kemacetan jalanan, ia menempuh perjalanan penuh makna antara kampus, masjid, dan kehidupan masyarakat Surabaya yang dinamis pada tahun 2010 hingga 2014. Kota ini menjadi saksi bisu perjuangannya — sebuah kota dengan segala kontradiksinya: modern, tetapi penuh dengan kekayaan budaya dan religiusitas.

Tahun 2010 adalah awal perjalanannya sebagai mahasiswa. Setiawan, dengan idealisme yang menggebu, memilih jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di Sekolah Tinggi Luqman Hakim. Kampus kecil di Surabaya Timur ini menjadi tempat di mana ia bertemu teman-teman yang berbeda latar belakang dan pemikiran, semuanya berjuang untuk mencari makna dalam dunia akademik.

Surabaya, dengan kampus-kampus besar seperti Universitas Airlangga, ITS, dan UIN Sunan Ampel, menjadi latar yang dinamis. Setiap kali melewati kampus-kampus besar itu, Setiawan merenungkan masa depannya: akankah dirinya dapat memberikan kontribusi yang berarti, di tengah hiruk-pikuk mahasiswa lain yang sibuk dengan kesenangan duniawi?

Setiawan tidak hanya tenggelam dalam rutinitas kuliah. Di sela-sela kesibukan tugas kampus, ia aktif menulis di Majalah Sahid, sebuah media dakwah yang dikelola Suara Hidayatullah. Kantor majalah ini berada di Surabaya Utara, tempat Setiawan sering datang untuk belajar langsung dari Ustadz Sobah, mentor yang mengajarkannya bahwa tulisan adalah salah satu senjata dakwah paling efektif.

Ustadz Sobah bukan hanya seorang jurnalis, tetapi seorang pembimbing spiritual yang mengajarkan pentingnya kedalaman pemikiran. Setiap artikel yang ia tulis tentang keislaman, pendidikan, dan sosial menjadi refleksi dari perjalanan hidupnya di kota yang penuh keragaman ini.

Selain menulis, Setiawan juga aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) lintas kampus di Surabaya. Setiap minggunya, ia menghadiri kajian-kajian di masjid kampus, bertemu dengan aktivis dakwah dari berbagai universitas. Masjid Nuruzzaman di Kampus B Universitas Airlangga menjadi salah satu tempat favoritnya, di mana ia kerap berdiskusi dengan tokoh agama seperti Prof. Dr. H. M. Roem Rowi, MA, seorang cendekiawan yang dihormati.

Dalam setiap pertemuan, ada semangat membangun generasi Islam yang kuat di tengah kehidupan kampus yang penuh tantangan. Aktivitas LDK menjadi salah satu tempat bagi Setiawan menemukan panggilannya dalam berdakwah dan menyuarakan pentingnya pemahaman aqidah yang kuat di kalangan mahasiswa.

Di tengah segala kesibukannya, Setiawan selalu menemukan waktu untuk melarikan diri ke alam. Mendaki gunung menjadi terapi bagi jiwanya yang terkadang lelah menghadapi tekanan kota. Setiap kali mendaki Gunung Arjuna di Lumajang atau Gunung Lawu, Setiawan merasa kembali dipulihkan oleh ketenangan alam.

Di puncak gunung, dia sering merenung tentang perjalanan hidupnya, tentang perjuangan dakwah, tentang tantangan yang akan datang, dan tentang masa depan yang masih terbentang luas di depannya. Ketinggian gunung selalu memberikannya perspektif baru, bahwa dalam hidup, kita harus selalu mendaki untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Surabaya, kota besar yang selalu sibuk, penuh dengan mobilitas masyarakat yang tiada henti. Di setiap sudutnya, ada perbedaan mencolok antara gedung-gedung tinggi dan kehidupan warga yang tetap berpegang pada nilai-nilai tradisional. Setiawan, dengan segala aktivitasnya, kerap tersadar bahwa kehidupan di kota ini adalah gambaran nyata dari perjuangan hidup.

Setiap hari, ketika mengendarai motor menyusuri jalanan kota untuk tugas marketing UPZ, ia melihat realitas masyarakat. Dari warung kecil di gang-gang sempit hingga restoran besar di pusat kota, ia menemui orang-orang dengan cerita masing-masing. Surabaya bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga medan nyata bagi Setiawan untuk memahami makna kehidupan yang sebenarnya.

Tahun 2014 menjadi tahun yang monumental bagi Setiawan. Setelah berbagai perjuangan, termasuk menyelesaikan skripsi yang meneliti pengaruh dakwah di Masjid Nuruzzaman, ia berhasil meraih gelar sarjana. Hanya dua dari 30 mahasiswa angkatannya yang berhasil menyelesaikan skripsi tepat waktu, dan Setiawan adalah salah satunya.

Namun, perjalanan ini tidak hanya berhenti di sini. Setiawan sadar bahwa kelulusan adalah awal dari perjalanan hidup yang sebenarnya. Dengan pengalaman mendaki gunung, belajar di majalah, dan berinteraksi dengan masyarakat, ia siap melanjutkan perjuangannya — di antara langit dan bumi Surabaya yang tak pernah berhenti memberikan pelajaran. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BISMILLAH, HARI YANG DITUNGGU

DISISI PUSARAMU

RIUH RIA PERJALANAN